Planet Pembawa Kehancuran Nibiru Hoax atau Fakta?

Jakarta – Planet Nibiru sering bikin kontroversi. Semuanya berawal pada 1976 ketika penulis asal Amerika, Zecharia Sitchin, memperkenalkan hipotesis kontroversial dalam bukunya yang berjudul ‘The 12th Planet’.

Ia menulis bahwa manusia tidak berevolusi secara alamiah, namun diciptakakan secara genetik oleh makhluk asing yang berasal dari planet di luar sistem tata surya, berdasarkan data-data yang ia kumpulkan dari bangsa Sumeria.

Menurutnya, planet tersebut memiliki orbit berbentuk elips yang sangat luas sehingga mampu melintasi sistem tata surya secara tegak lurus diantara Mars dan Jupiter setiap 3.600 tahun. Ia memanggil planet tersebut dengan sebutan Nibiru, yang berarti planet pelintas.

“Dulu, Nibiru sempat menjadi planet pengembara, sebelum ditarik oleh Matahari yang baru saja terbentuk sekitar 4 Miliar tahun lalu. Pada saat itu, Bumi memiliki ukuran lebih besar, dengan orbit di antara Mars dan Jupiter,” tulisnya dalam buku tersebut, seperti dilansir detikINET dari Ancient Origins pada Senin (30/10/2017).

‘The 12th Planet’ juga menjelaskan bahwa Bumi saat itu dikenal sebagai Tiamat berdasarkan kepercayaan bangsa Sumeria.

Saat salah satu perlintasan awal Nibiru, bulan yang mengelilingi Nibiru bertabrakan dengan Tiamat hingga terbagi menjadi dua, satu menjadi Bumi yang kita kenal sekarang dan bagian lain menjadi Bulan. Orbitnya pun bergeser ke posisi yang diketahui sekarang.

Zecharia Sitchin menambahkan bahwa debu-debu sisa tabrakan tersebut bisa jadi beterbangan tanpa arah di luar angkasa, terhisap oleh exoplanet, ataupun menjadi Sabuk Asteroid, yaitu gugusan di antara Mars dan Jupiter yang berisi asteroid serta planet minor.

Nibiru sering disebutkan akan menjadi sumber bencana karena menghasilkan gaya gravitasi luar biasa besar sehingga mempengaruhi Bumi.

Penelitian Robin Canup

Pada 2001, Robin Canup dari Southwest Research Institute mengatakan bahwa tabrakan yang dialami oleh Bumi tidak hanya menciptakan Bulan, namun dapat memicu rotasi pada Bumi.

Hal tersebut tertuang pada laporan studi yang ia lakukan selama delapan tahun bersama William Ward dan Alastair Cameron, yang tergabung dalam kelompok peneliti ‘penentang’ teori asli impact theory saat pertama kali dipublikasikan pada 1970an.

Teori ini menjelaskan bahwa Bulan merupakan debu yang tersisa dari tumbukan planet lain berdasarkan perbedaan mencolok antara Bumi, yang mengandung banyak zat besi dari intinya, dengan Bulan yang kandungan zat besinya hanya sedikit.

Tidak seperti teori asli tersebut, Robin Canup bersama koleganya menyimpulkan Bulan merupakan bagian dari Bumi, bukan debu dari planet lain. Hal tersebut berdasarkan penemuan terhadap identiknya komposisi isotop yang masing-masing dimiliki oleh Bumi dan Bulan. Secara tidak langsung, studi tersebut mendukung pemahaman Zecharia Satchin dalam bukunya, bahwa bulan adalah ‘belahan’ bumi.

Meskipun begitu, soal planet Nibiru diyakini hanya omong kosong yang tidak ada dasar ilmiahnya. Belakangan memang ada penemuan planet kesembilan, tapi bukanlah merupakan Nibiru atau Planet X.

“Tidak ada bukti yang kredibel terhadap eksistensi Nibiru. Tidak ada gambar, jejak, dan observasi secara astronomis,” kata David Morrison, peneliti NASA.

“Jika ada planet yang mengarah ke dalam sistem tata surya dan mendekati Bumi, ia akan melewati orbit Mars terlebih dahulu sehingga membuatnya bersinar terang dan dapat dilihat dengan mudah hanya melalui mata telanjang oleh semua orang,” ia menambahkan.

NASA sudah berulangkali menyatakan eksistensi Nibiru semata hoax yang beredar di internet. “Nibiru dan cerita lain tentangnya adalah hoax di internet. Tidak ada bukti faktual soal klaim tentangnya. Planet itu tidak eksis,” sebut lembaga antariksa Amerika Serikat itu. (fyk/fyk)

SUMBER

 

 

Share this post:

Youtube Channel

Facebook Page

Instagram Feed

Error: Access Token is not valid or has expired. Feed will not update.
This error message is only visible to WordPress admins

There's an issue with the Instagram Access Token that you are using. Please obtain a new Access Token on the plugin's Settings page.
If you continue to have an issue with your Access Token then please see this FAQ for more information.